Selasa, 24 November 2009

ARSITEKTUR

 Sejarah Arsitektur Tradisional Lampung

Arsitektur tradisional Lampung bisa dibilang sebagai warisan leluhur budaya yang tidak akan dapat ditemukan lagi di lingkungan masyarakatnya. Rumah adat lampung disebut Nuwo sesat yang mempunyai ciri seperti rumah-rumah tradisional yang ditemukan di Kepulauan Asia Tenggara dan sebagian daratan Asia (Indonesia) yang memiliki ciri khas berupa umpak, lantai yang ditinggikan sehingga membentuk kolong di bagian bawah lantai, atap berpuncak dengan bubungan yang dipanjangkan, dan ujung dinding muka keluar.
Melihat ciri-ciri khas ini, bisa dikatakan bahwa tradisi arsitektur masyarakat Lampung telah ada ribuan tahun jika titik asal mengacu pada tradisi arsitektur yang dibawa para pelaut Astronesia. Artinya, tradisi arsitektur masyarakat Lampung sudah muncul bahkan sebelum pengaruh budaya Hindu-Buda muncul pada abad ke-9 sampai abad ke-15.
Sepanjang ribuan tahun jika titik asal tradisi arsitektur dari pelaut Astronesia, pastilah sebuah era yang sangat panjang dan meninggalkan nilai-nilai tradisi yang sulit untuk diubah oleh pengaruh budaya Hindu-Buda. Arsitektur khas Lampung juga bisa ditelusuri jejak-jejaknya pada bangunan-bangunan yang ada saat ini. Rumah-rumah yang masih memiliki disain arsitektur tradisional dengan ciri umumnya denah berbentuk bujur sangkar (persagi), berbahan baku kayu, berdiri di atas umpak batu, lantai dinaikkan, bagian depan dimajukan, dan memiliki tangga masuk ke rumah, sedikit banyak pasti mengandung sejarah tradisi arsitektural Lampung
Rumah-rumah tradisional milik masyarakat Lampung memiliki ciri khas yaitu berdiri di atas tiang atau memiliki fondasi yang dinaikkan. Kita mengenal rumah semacam ini sebagai rumah panggung dimana rumah tersebut memiliki tiang-tiang tinggi berkisar 1,5 meter sampai 2 meter, sehingga membentuk sebuah kolong di bawah lantai. Bentuk atap rumah tidak mengandung filosofi apapun melainkan lebih dikaitkan pada kondisi alam dari daerah dimana rumah tersebut dibangun. Rumah bagi masyarakat tradisional sama seperti kerajaan, tetapi yang paling penting rumah pada awalnya berfungsi sebagai tempat berlindung dari segala bentuk gejala alam. Karena itu, khasanah arsitektur rumah-rumah tradisional muncul sebagai antisipasi manusia terhadap kondisi alam di lingkungannya, sehingga untuk mengantisipasi curah hujan yang tinggi masyarakat tradisional akan membangun bentuk atap yang membuat air hujan tidak merembes ke bagian dalam rumah. Faktor curah hujan ini menjadi pertimbangan karena sebagian besar atap rumah adat lampung menggunakan ijuk atau alang-alang, yang daya tahannya sangat tergantung pada tingkat kekeringannya. Melihat struktur bangunan tradisional Lampung, sama artinya dengan melihat struktur simbol dari kebudayaan masyarakatnya.
Dengan begitu, saya meyakini bahwa tradisi arsitektur masyarakat Lampung sangat universal sebagai warisan masyarakat pelaut Austronesia, dan jejak-jejaknya bisa ditemukan di sebagian besar wilayah Nusantara.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda